Pernahkah Anda memperhatikan bahwa ternyata, pada umumnya manusia melakukan tindakan yang sama seperti yang dilakukannya dihari-hari sebelumnya. Dengan kata lain kita melakukan aktivitas yang itu-itu saja dari hari ke hari. Itulah sebabnya, kita selalu dapat memperkirakan apa yang akan kita hasilkan dihari itu. Karena, kita tahu bahwa sebuah tindakan ikut menentukan hasil yang kita dapatkan. Setiap hari kita bertanya; mengapa hidupku tidak kunjung mengalami perbaikan? Padahal, kita menjalani hidup dengan cara yang sama dengan hari-hari sebelumnya.



Suatu ketika, saya memasuki sebuah bangunan dimana dinding di keempat sisinya didominasi oleh kaca transaparan. Begitu bersihnya kaca-kaca itu, sehingga kita bisa melihat keluar dengan jelas. Selain saya, didalam ruangan itu terdapat seekor burung liar. Ketika saya masuk, dia terlihat panik dan berusaha menjauh. Namun ketika hendak terbang keluar, dia menabrak kaca hingga nyaris terhempas. Dia mencoba lagi, dan menabrak kaca lagi. Sampai berkali-kali. Meski ingin menolongnya, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa.



"Hey, pintunya ada disamping kiri...." saya berkata, meski tahu bahwa dia tidak akan mengerti. Suatu ketika, burung itu kelelahan. Dia tidak terbang dan menabrak kaca lagi. Kali ini dia diam saja. Kepalanya yang mungil mendengak-dengok ke kiri dan ke kanan. Seolah dia mencari tahu; benda apa yang tadi ditabraknya? Saya tidak tahu, apakah burung kecil itu sudah menyadari keberadaan kaca itu atau tidak. Tetapi, sekarang dia tidak mau terbang lagi. Dia memilih untuk menclak-menclok diantara kusen-kusen kayu dipinggir bangunan. Saya mengira dia kapok terbang. Sehingga bertambahlah rasa kasihan saya. Seandainya saja bisa menangkapnya, saya akan membawanya keluar dari sana .



Tetapi, ternyata semua dugaan saya salah. Setelah beberapa kali menclak menclok, burung itu kemudian masuk kedalam lubang angin yang sempit. Lalu dia menelusuri lorong gelap itu. Dan akhirnya sampai disisi lain dinding bangunan. Sekarang dia sudah sampai kealam luas tanpa batas. Lalu terbang dengan teramat bebas!



Saya tertegun. Lantas berucap terimakasih kepada sang burung. Dia telah mengingatkan saya tentang apa yang selama ini saya lakukan setiap hari. Setelah selama bertahun-tahun saya melakukan tindakan yang sama, mestinya saya tahu bahwa hasilnya pasti akan sama. Tetapi, kadang pikiran ini tertimbun kepicikan sehingga menjadi begitu dangkal. Sehingga, meskipun tahu bahwa tindakan yang saya ulang-ulang itu hanya akan memberikan hasil yang sama, tetapi setiap akhir tahun saya suka bertanya; mengapa tahun ini saya tidak mendapatkan peningkatan yang bermakna? Mengapa pencapaian saya tahun ini hanya begini-begini saja? Mengapa pendapatan saya tahun ini sama saja
dengan tahun lalu? Dan sejuta tanya lainnya.



Tiba-tiba saja burung itu menyadarkan saya, bahwa untuk mendapatkan hasil yang berbeda; saya harus melakukan sesuatu yang berbeda. Bahkan burung itu rela menunjukkan bahwa terbang dan menabrak kaca hanya akan menjadikan jiwanya terancam. Dia mengulanginya lagi untuk menegaskan pelajaran itu. Pelajaran bahwa; jika kita melakukannya lagi, maka kita akan mendapatkan hasil seperti sebelumnya lagi.



Sekarang burung kecil itu menunjukkan kepada saya tindakan yang berbeda sama sekali. Meski dia punya sayap, dia tidak tergoda untuk kembali mengepak terbang. Kali ini dia menclak-menclok dengan kaki-kaki mungilnya. Lalu menelusuri lubang angin itu. Dan. Seperti yang saya saksikan; dia mendapatkan hasil yang berbeda. Dia berhasil mendapatkan apa yang diharapkannya.



Sekarang, saya mengerti; mengapa hasil yang kita dapatkan dari tahun ke tahun sama saja. Karena, kita tidak mengubah apapaun dari perilaku kita. Karena, kita tidak mengubah apapun dari cara pandang kita. Karena kita tidak melakukan sesuatu yang berbeda dalam hidup kita. Sang burung kecil berkata; "Kalau kamu ingin mendapatkan hasil yang berbeda, maka kamu harus melakukannya dengan cara yang berbeda." Ubahlah sesuatu, maka hasilnya akan berubah pula.



Bagaimana seandainya kita bersikukuh untuk tidak melakukan perubahan? Silakan saja. Bukankah hidup ini merupakan sederetan pilihan? Kita semua berhak untuk bersikukuh pada jalan mana yang kita tempuh. Kita semua berhak untuk tetap berdiri pada cara kita sendiri. Pada sudut pandang kita sendiri. Dan kepada kebenaran diri kita sendiri. Namun, jangan lupa akan konsekuensinya. Sehingga, kita tidak akan pernah mengeluhkan hasilnya. Jadi, jika kita tidak mau berubah; maka sebaiknya kita tidak menuntut perbaikan hasil. Kenapa? Karena hasil yang lebih baik hanya akan kita dapatkan jika kita bersedia melakukan perubahan. Jika tidak? Maka kita hanya akan mendapatkan yang itu - itu saja.

DIET SI DOMPET

Tapal batas kartu
Tawaran kartu kredit dari berbagai bank memang menggiurkan. Potongan harga untuk berbelanja di merchant tertentu, gratis satu tiket tiap beli tiket bioskop, hingga bebas biaya tahunan, adalah beberapa contoh fasilitas kartu kredit yang sulit ditolak.

Tapi, bukan berarti kita boleh kalap menerima seluruh tawaran kartu kredit. Sebagai cewek yang baru merintis karier, cukup miliki satu kartu kredit yang fasilitasnya sesuai kebutuhan kita. Pertimbangkan, deh, besarnya bunga yang harus dibayar jika kita terlambat melunasi tagihan. Ogah, kan, menambah pengeluaran sia-sia....

'Bakar kalori’
Sama seperti diet makanan, kita kudu memperhatikan jumlah 'kalori' yang menghabiskan uang kita. Kumpulin, deh, rekening tagihan barang-barang belanjaan kita tiga bulan terakhir. Bandingkan harga asli belanjaan dengan harga yang harus kita bayarkan bila melalui kartu kredit plus bunganya. Perbedaannya pasti cukup besar!

Lebih nyesekin lagi jika baju maupun sepatu yang harganya supermahal itu ternyata jarang kita gunakan. Daripada disia-siakan, mendingan buka garage sale di kantor. Selain bisa balik sebagian modal, lemari pakaian jadi lebih lega....

Hang out murmer
Cewek muda seperti kita memang sedang doyan-doyannya ngumpul bareng teman di mall. Hal ini sebenarnya sah-sah aja, asal nggak keseringan. Sadar nggak, sih, kalau kita bisa menghabiskan uang hingga lebih dari Rp 100 ribu sekali hang out? Makan di kafe maupun nonton bioskop, kan, butuh biaya nggak sedikit—belum lagi uang bensinnya.

Jadi kurangi, deh, intensitas kita bersantai di mall. Jika tadinya tiap minggu kita ngumpul, mendingan kurangi jadi dua minggu atau sebulan sekali. Kalau tetap pengen ngumpul tiap minggu, jadikan rumah kita atau sahabat sebagai tempat pertemuan. Nonton DVD atau olahraga bareng nggak kalah seru, kok!

Adakalanya, kita bosan dengan kegiatan sehari-hari yang berulang-ulang dilakukan.
Boleh dong....... intermezo sejenak........

Di kotaku, Pemalang ada pantai nan indah namanya pantai Widuri.
Pantaiku indah dan penuh dengan pohon-pohon menjulang tinggi.
Namun ada sisi lain yang mestinya bisa dihilangkan dari pandangan mata...........
YA! Sampah!

Dimana-mana sampah bertebaran. Bukan hanya sampah plastik dkk yang tidak dapat terurai, tapi ada jenis lain yang suangat mengganggu, yaitu kotoran manusia.

Rupanya masyarakat nelayan disekitar bibir pantaiku itu suka sekali membuang hajatnya di mana pasir pantai terhampar. Sayang sungguh sayang.......Oh pantaiku!!!

Kini Engaku penuh kotoran yang mestinya jadi "rahasia" saja ya???
OOHHHH pantaiku yang merana........